logo logo
468 ad

Minyak Nilam

Minyak Nilam

Info Minyak Nilam ( Patchouli Oil)

Minyak Nilam terbaik sesuai dengan kebutuhan pasar memiliki warna kuning bening ( kuning-kuning tua) dengan Patchouli Alcohol ( PA) di atas 30% . Investasi Industri Nilam akan menghasilkan atau berjalan baik apabila tanaman yang dihasilkan memberikan rendeman pada penyulingan nilam didapat nilai di atas 2% .

dari uji coba dan selama produksi yang dilakukan Nilam Sambiroto dfengan menggunakan uap terpisah hasil dari boiler yang diteruskan melalui pipa galvanized carbon steel ke dalam ketel ( Autoclave) jenis stainless steel volume 200 kg Nilam Kering dengan menggunakan kondenser tipe spiral jenis stainless steel yang dilakukan selama kurang lebih 7 jam, dimana semua produk hasil desain dan buatan sendiri, di dapat rendeman terendah 2% dan tertinggi 3.5% dengan hasil pengetesan PA terendah 34% . Sementara bahan baku diproses setelah mencapai penyusutan bahan baku kurang lebih 75% .

Namun perlu diketahui bahwa kualitas Minyak Nilam juga dipengaruhi oleh:
1. Bibit yang baik
2. Pola tanam
3. Manajemen Pertanian
4. Manajemen Perawatan Pertanian
5. Manajemen Pasca Panen
6. Sistem Industri pengolahan Nilam
7. Desain peralatan penyulingan
8. Manajemen dan teknologi pemrosesan minyak nilam
9. Sumber daya manusia

Jadi bukan mahal atau sederhananya peralatan ataupun mahal atau murahnya peralatan namaun faktor-faktor di atas merupakan faktor yang cukup penting untuk diketahui.

MODEL PENYULINGAN MINYAK ATSIRI SKALA KELOMPOK TANI

Minyak atsiri banyak digunakan dalam industri obat-obatan, flavor, fragrance, dan parfum. Di Indonesia tercatat 14 jenis minyak atsiri yang sudah diekspor. Hal ini memberi peluang lebih besar lagi bagi Petani untuk berperan dalam agroindustri minyak atsiri. Peneliti dari Balai Besar Pengembangan Alat dan Mesin Pertanian memberikan model penyulingan skala kecil yang dapat dikembangkan di pedesaan.

Selain mengekspor, Indonesia juga mengimpor beberapa jenis minyak atsiri dalam jumlah cukup besar. Pada tahun 1998, ekspor minyak atsiri tercatat 27,30 ton dengan nilai 120,26 juta dolar Amerika, sedangkan impornya 54,320 ton dengan nilai 200,13 juta dolar Amerika. Data ini menunjukkan bahwa peluang untuk mengembangkan agroindustri minyak atsiri cukup besar karena penggunaan turunan minyak atsiri pada berbagai industri di dalam negeri juga berkembang.

Impor minyak atsiri yang masih tinggi antara lain disebabkan teknologi pengolahan minyak atsiri di Indonesia belum mampu mengikuti perkembangan teknologi di negara lain yang telah maju pesat. Umumnya petani minyak atsiri masih menerapkan teknologi hulu dan bersifat tradisional, sehingga belum mampu menjamin kontinuitas pengadaan produk dengan mutu yang konsisten.

Melihat kondisi demikian, Tim Peneliti Pascapanen di bawah koordinasi Balai Besar Pengembangan Alat dan Mesin Pertanian (BB Alsintan) bersama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan (Puslitbangbun) telah merekayasa model penyulingan minyak atsiri yang dapat diterapkan pada tingkat pengelolaan kelompok tani. Model penyulingan minyak atsiri ini telah berhasil diuji coba di Desa Cikondang, Majalengka, Jawa Barat.

Penyulingan Sistem Kohobasi
Salah satu cara untuk meng-isolasi minyak atsiri dari bahan tanaman penghasil minyak atsiri adalah dengan penyulingan, yaitu pemisahan komponen yang berupa cairan dua macam campuran atau lebih berdasarkan perbedaan titik didih. Proses tersebut dilakukan terhadap minyak atsiri yang tidak larut dalam air.

Berdasarkan kontak antara uap air dan bahan yang akan disuling, metode penyulingan minyak atsiri dibedakan atas tiga cara, yaitu: (1) penyulingan dengan air, (2) penyulingan dengan uap dan air, dan (3) penyulingan dengan uap. Penyulingan dengan air serta penyulingan dengan uap dan air lebih sesuai bagi industri kecil karena lebih murah dan konstruksi alatnya sederhana. Namun penyulingan dengan uap dan air memiliki kelemahan, yaitu membutuhkan uap air yang cukup besar. Hal ini karena sejumlah besar uap akan mengembun dalam jaringan tanaman sehingga bahan bertambah basah dan mengalami aglutinasi. Untuk mengatasi kelemahan ini, telah dikembangkan model pe-nyulingan uap dan air yang dikombinasikan dengan sistem kohobasi. Pada sistem ini pemanasan air dalam ketel penyulingan dilakukan secara langsung terhadap dasar ketel. Dengan sistem ini, bahan bakar dapat dihemat sampai 25%, karena air yang digunakan hanya 40% dari yang normal.

Untuk penyulingan minyak atsiri dengan kapasitas 1.000 liter, sistem pemanasan air dalam ketel harus ditambah dengan pemanasan air semiboiler. Pemanasan air semi- boiler dapat dilakukan dengan cara memasang pipa-pipa kecil yang mengalirkan panas dari asap sisa bakar (flue gas) pada air dalam ketel.

Pengembangan Model Agroindustri Minyak Nilam
Dalam rangka pengembangan model pengolahan minyak atsiri, Puslitbang Perkebunan telah merancang unit penyuling minyak atsiri sistem kohobasi dan semi-boiler (SBCS-1000). Alat suling minyak atsiri sistem kohobasi semiboiler ini dikembangkan di Desa Cikondang, Majalengka berkapasitas 100 kg daun nilam kering per penyulingan. Rendemen minyak nilam yang diperoleh rata-rata 2%. Bila diasumsikan umur ekonomi alat 10 tahun, maka harga pokok alat adalah Rp 83.000/kg. Untuk 2 tahun masa suling dengan tingkat harga minyak Rp 140.000/kg, agroindustri minyak atsiri memperoleh NPV pendapatan bersih Rp21.107.728 dan B/C 1,67.

Selain untuk menyuling minyak nilam, alat ini dapat juga digunakan untuk menyuling daun serai wangi. Dari 118 kg bahan baku diperoleh minyak serai wangi rata-rata 1.630 ml atau rendemen minyak sekitar 1,35% v/b dengan laju penyulingan 724 ml/menit. Mutu minyak yang dihasilkan, baik minyak nilam maupun akar wangi cukup baik dan telah dapat memenuhi persyaratan mutu yang dikeluarkan oleh Standar Nasional Indonesia (SNI) seperti terlihat pada Tabel 1 dan 2.

minyak nilam

Kelayakan Operasi Alat Penyuling Minyak Atsiri Model SBCS-1000
Alat penyuling minyak atsiri model SBCS-1000 telah diuji coba sebagai model percontohan agribisnis minyak atsiri di Desa Cikondang, Majalengka. Alat ini dioperasikan sepenuhnya oleh Kelompok Usaha Tani Nilam Mekar I dan II di bawah bimbingan peneliti Balittro, Bogor. Penyulingan 100 kg daun nilam kering selama 6-8 jam operasi memberikan keuntungan bersih Rp 60.000. Kapasitas kerja alat mampu menampung 500 kg daun nilam kering per hari. Dengan kemampuan demikian, penggunaan alat penyuling minyak atsiri model SBCS-1000 ini memberi peluang keuntungan Rp 300.000 per hari.

468 ad


Tulis Komentar Anda Tentang Artikel Ini
bottom