
Budidaya sayuran organik kini menjadi usaha yang menguntungkan. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan, membuat banyak orang beralih ke makanan yang alami. Sehingga sayuran organik kini banyak digemari.
Tiap minggu dari perkebunan seluas dua koma tiga hektar mampu memasok hungga lima ratus kilo gram sayuran organik berbagai jenis.
Penanaman dikembangkan sejak dari bibit. Bibit sayuran berupa biji-bijian ditanam di ruang penyemaian, selama tiga sampai empat minggu.
Setelah sayuran tumbuh kemudian dipindahkan ke lahan yang telah disiapkan. Lahan terlebih dahulu digemburkan dan diberi pupuk kandang.
Dalam menanam sayuran organik ini, pola tanam dan jenis sayuran yang ditanam sangat mempengaruhi hasil panen. Di dalam pola pertanian organic, dilakukan rotasi tanaman dan pengayaan jenis tanaman pada blok-blok tertentu. Sehingga tanaman sayur lebih beragam seperti pola tumpangsari. Pola tanam sayuran secara acak ini dimaksudkan agar tanaman lebih tahan terhadap hama penyakit.
Untuk mencegah dan mengendalikan hama penyakit dalam pertanian organik, digunakan cara alami. Tumbuh-tumbuhan seperti umbi gadung, daun pepaya, daun mimba dan daun mahoni ditanam sebagai pencegah hama.Tanaman brokoli ini telah siap dipanen. Cara memanennyapun sederhana, cukup menggunakan alat pemotong.
Selain menanam sayur-sayuran, bisa juga menanam tomat. Kelebihan tomat yang ditanam secara organik lebih segar dan lebih tahan lama. Bahkan bisa dikonsumsi langsung tanpa efek samping.
Sayuran organik harganya jauh lebih mahal dibandingkan sayuran biasa. Di pasaran harganya bisa mencapai tiga hingga lima kali lebih mahal dari sayuran biasa.
Para pelanggan sayuran organik adalah para ekspatriat, terutama dari Jepang dan Korea, serta golongan menengah keatas yang sangat menjaga konsumsi sayurannnya.